Perempuan si rukat nakan: konstruksi identitas gender pada budaya patriarki masyarakat suku karo. Mengkaji konstruksi identitas gender pada budaya patriarki masyarakat Suku Karo melalui istilah 'sirukat nakan'. Telusuri pergeseran budaya & pelestarian bahasa lokal.
Penelitian ini mengkaji tentang pembentukan identitas gender pada masyarakat karo yang dikenal memiliki budaya patriarki yang kental. Pendekatan yang digunakan adalah kualitatif dengan metode deskriptif-analitis. Temuan dalam penelitian ini adalah penggunaan istilah kiasan sirukat nakan, sebuah ungkapan tradisional dalam masyarakat Karo yang digunakan oleh laki-laki untuk merayu perempuan agar bersedia menjadi istri yang menerima segala kekurangannya. Secara simbolik, ungkapan ini mencerminkan nilai kesetiaan dan penerimaan tanpa syarat dalam relasi patriarkal. Namun, saat ini sirukat nakan semakin jarang digunakan, terutama di kalangan generasi muda. Hal ini dipengaruhi oleh arus globalisasi yang membawa nilai-nilai kesetaraan gender serta pergeseran budaya dan bahasa, maka bahasa Karo perlahan tergeser oleh bahasa Indonesia dan bahasa global. Temuan ini menunjukkan transformasi ekspresi budaya tradisional, sekaligus menekankan pentingnya pelestarian istilah lokal sebagai bagian dari identitas kultural dan warisan sosial masyarakat. Meski demikian, penggunaan istilah tersebut masih bisa ditemukan dalam percakapan masyarakat tertentu di wilayah Karo.
This study presents a timely and culturally insightful exploration into the construction of gender identity within the prominent patriarchal society of the Karo ethnic group. Employing a qualitative, descriptive-analytical approach, the research effectively delves into the nuanced ways traditional expressions shape and reflect societal norms. The paper's central contribution lies in its examination of the traditional idiom "sirukat nakan," offering a unique lens through which to understand historical gender dynamics and the complexities of female identity formation in this specific Indonesian context. The core findings illuminate "sirukat nakan" as a poignant metaphorical phrase historically used by men to persuade women into marriage, symbolizing an expectation of unwavering loyalty and unconditional acceptance within a patriarchal framework. The study observes a significant decline in the usage of this term, particularly among younger generations. This transformation is attributed to the pervasive influence of globalization, which introduces contemporary values of gender equality, alongside broader cultural and linguistic shifts where the Karo language is gradually being supplanted by Indonesian and other global languages. These findings underscore a critical juncture where traditional cultural expressions are undergoing significant redefinition and sometimes erosion. While demonstrating the ongoing transformation of cultural heritage, this research simultaneously highlights the enduring importance of preserving local terminology as a vital component of cultural identity and social legacy. The nuanced observation that "sirukat nakan" can still be found in specific community conversations adds a layer of complexity, suggesting pockets of cultural resilience or diverse interpretations of tradition. This paper makes a valuable contribution to understanding the interplay between tradition, modernity, and gender roles, providing a strong foundation for future research to further explore the dynamics of cultural preservation and the evolving agency of women within a changing patriarchal landscape.
You need to be logged in to view the full text and Download file of this article - Perempuan Si Rukat Nakan: Konstruksi identitas gender pada budaya patriarki masyarakat Suku Karo from FOUNDASIA .
Login to View Full Text And DownloadYou need to be logged in to post a comment.
By Sciaria
By Sciaria
By Sciaria
By Sciaria
By Sciaria
By Sciaria